Selasa, 19 April 2016

PRODUK DOMESTIK BRUTO, PERTUMBUHAN, DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
(23215336)
(23215638)
(26215271)
1.     PDB (PRODUK DOMESTIK BRUTO) ATAU GDP (GROSS DOMESTIC PRODUCT)
Yaitu menghitung hasil produksi suatu perekonomian tanpa memperhatikan siapa pemilik faktor produksi tersebut. Semua faktor produksi yang berlokasi dalam perekonomian tersebut outputnya diperhitungkan dalam PDB. Akibatnya, PDB kurang memberikan gambaran tentang berapa sebenarnya output yag dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik perekonomian domestik.
PDB adalah jumlah produk yang berupa barang maupun jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama 1 tahun.
Dengan rumus :
GDP/PDB = C + I + G + (X - M)
Keterangan :
C = Konsumsi                                                             X = Ekspor
I = Investasi                                                                M = Impor
G = Pengeluaran pemerintah

2.     PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu Negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.
Pertumbuhan Ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.
Pertumbuhan ekonomi merupakan penambahan GDP, sehingga terjadi peningkatan national income.
Peningkatan Jumlah Penduduk
|
Peningkatan National Income
|
Peningkatan Kebutuhan Sehari-hari
National income dapat merujuk pada GDP, GNP atau NNP (Net national Product)
GNP = GDP + F, dimana F = pendapatan neto atas faktor luar negeri
NNP = GNP – D, dimana D = depresiasi
NP = NNP – Ttl, dimana Ttl = pajak tidak langsung neto.
GDP = NP + Ttl + D – F
NP = GDP + F – D- Ttl

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Subandi, dalam bukunya Sistem Ekonomi Indonesia menulis bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum, yaitu :
1.      Faktor produksi
2.      Faktor investasi
3.      Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran
4.      Faktor kebijakan moneter dan inflasi
5.      Faktor keuangan Negara

3.     PERTUMBUHAN EKONOMI SELAMA ORDE BARU HINGGA SEKARANG
Selama pemerintahan orde baru (sebelum krisis ekonomi 1997) dikatakan bahwa Indonesia telah mengalami suatu proses pembangunan ekonomi yang menakjubkan, paling tidak pada tingkat makro (agregat). Keberhasilan ini diukur dengan sejumlah indicator ekonomi makro. Yang umum dgunakan adalah tingkat PN perkapita dan laju pertumbuhan PDB pertahun. Pada tahun 1968 PN per kapita masih sangat rendah, hanya sekitar US$60.
Namun, sejak pelita 1 dimulai PN Indonesia perkapita mengalami peningkatan relatif tinggi setiap tahun dan pada akhir decade 1980-an telah mendekati US$500. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan PDB rata-rata pertahun juga tinggi 7-8% selama tahun 1970-an dan turun menjadi 3-4% pertahun. Selama 70-80an, proses yang cukup serius, yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti merosotnya harga minyak mentah di pasar internasional menjelang pertengahan 1980-an dan resensi ekonomi dunia pada decade yang sama. Karena Indonesia sejak pemerintahan orde baru menganut sistem ekonomi terbuka, 18 goncangan-goncangan eksternal seperti itu sangat terasa dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain faktor harga, ekspor Indonesia, baik komoditas primer maupun barang-barang industri maju, seperti jepang, AS, dan eropa barat yang merupakan pasar pnting ekspor Indonesia. Dampak negative dari resensi ekonomi dunia tahun 1982 terhadap perekonomian Indonesia terutama terasa dalam laju pertumbuhan ekonomi selama 1982-1988 jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Karena pengalaman menunjukan bahwa biasanya resensi ekonomi dunia lebih mengakibatkan permintaan dunia berkurang terhadap bahan-bahan baku (yang sebagian besar di ekspor oleh NSB) daripada permintaan terhadap barang-barang konsumsi, seperti alat-alat rumah tangga dari elektronik dan mobil.
Pada saat krisis ekonomi mencapai klimaksnya, yakni tahun 1998, laju pertumbuhan PDB jatuh drastic hingga 13,1%. Namun, pada tahun berikutnya kembali positif walaupun kecil sekitar 0.8% dan tahun 2000 ekonomi Indonesia mengalami laju pertumbuhan yang tinggi hampir 5%. Namun tahun 2001 laju pertumbuhan ekonomi kembali merosot hingga 3.8% akibat gejolak politik yang sempat memanas kembali pada tahun 2007 laju pertumbuhan tercatat sedikit diatas 6%.
Antara tahun 1990 hingga sebelum menjelang krisis ekonomi, Indonesia tumbuh rata-rata pertahun diatas 8%. Kemajuan yang dicapai oleh cina dan india memang sangat menakjubkan. Pada awal dekade 90-an, pertumbuhan ekonomi dikedua Negara besar tersebut masing-masing tercatat hanya 3.8-5.3%. namun pada pertengahan dekade 90-an, pertumbuhan kedua Negara itu sudah menyamai bahka melewati persentasi Indonesia. Dari sejumlah Negara ASEAN yang juga dihantam krisis 1997/98, Indonesia memang paling parah dengan pertumbuhan negatif hingga 13.1%, disusul oleh Thailand dengan -10.5% dan Malaysia -7.4%. namun yang menakjubkan dari kedua Negara tersebut setahun setelah itu ekonomi mereka mulai pulih dibandingkan ekonomi Indonesia yang hanya 0.8%.
Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik setelah 1998 tercerminkan pada peningkatan PDB perkapita atas dasar harga berlaku tercatat sekitar 4.8 juta rupiah. Tahun 1999 naik menjadi 5.4 juta rupiah dan berlangsung sehingga mencapai sekitar 10,6 juta rupiah pada tahun 2004, perkapita Indonesia pada tahun 2006 mencapai 1420 dalar AS, diatas india, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan china.
Tahun 1998, sebagai akibat dari krisis ekonomi semua komponen pengeluaran mengalami penurunan terkecuali X yang mengakibatkan kontraksi AD SEKITAR 13%. Sedangkan perkembangan X bisa bertahan positif selama masa krisis terutama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Komponen AD yag paling besar penurunannya selama 1998 adalah pembentukan modal bruto yang merosost sekitar 33.01% dibandingkan kontraksi dari pengeluaran konsumsi swasta sebesar 6.40% dan pengeluaran pemerintah sebesar 15.37%. besarnya penurunan investasi tersebut juga kelihatan jelas dari penurunan presentasinya terhadap PDB ada tahun 2000 pertumbuhan investasi sempat mencapai hamper 18%, namun setelah itu merosot terus hingga negatif pada tahun 2002.
Pada awalnya, salah satu faktor penting yang menyebabkan merosotnya kegiatan investasi dalam negeri selama masa krisis seperti juga di Negara-negara asia lain yang terkena krisis adalah karena kerugian besar yang dialami oleh perusahaan swasta akibat depresiasi rupiah yang besar, sementara utang luar negeri dlam mata uang dolah AS tidak dilindungi sebelumnya dengan kurs tertentu di pasar jangka waktu kedepan. Faktor-faktor lain yang membuat lesuya komponen investasi didalam AS diantaranya adalah jatuhnya harga saham, pelarian modal atau arus modal keluar lebih banyak daripada arus masuk dan risiko premium yang meningkat drastis. Dua faktor terakhir ini didorong oleh kondisi politik, sosial, keamanan, dan penegakan hukum yang buruk.


4.     FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
-          Faktor Internal
Faktor internal yang mencakup factor ekonomi dan non ekonomi (politik, social dan keamanan). Lambatnya proses pemulihan ekonomi nasional lebih disebabkan kondisi politik, sosial, dan keamanan di dalam negeri. Pemulihan ekonomi Indonesia berjalan lambat karena proses perbaikan ekonomi nasional tidak disertai kestabilan politik dan keamanan yang memadai, penyelesaian konflik sosial, serta kepastian hukum (Tambunan,2001:43-44). Faktor ekonomi mencakup: pengendalian terhadap inflasi, cadangan devisa, rasio hutang Ln terhadap PDB, dan kondisi perbankan, serta kesiapan dunia usaha.
-          Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor ekonomi yang mencakup perdagangan internasional dan pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi perdagangan dan perekonomian regional atau perekonomian dunia merupakan faktor eksternal yang sangat penting untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan ekspor dan investasi asing dalam negeri

5.     PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
Pembangunan ekonomi jangka panjang (PDB/PN) merubah struktur ekonomi dari pertanian menuju industry (sector non primer) terutama industri manufaktur dengan increasing return to scale. Semakin cepat pertumbuhan ekonomi, semakin meningkat pendapatan perkapita, semakin cepat perubahan struktur ekonomi.
Perubahan struktur ekonomi/transformasi structural merupakan serangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam aggregate demand, perdagangan LN, dan aggregate supply untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Teori perubahan struktur ekonomi:
-          Teori Arthur Lewis (Teori migrasi)
Teori ini membahas pembangunan di pedesaan (perekonomian tradisional dengan pertanian sebagai sektor utama) dan perkotaaan (perekonomian modern dengan industri sebagai seckor utama).
Di pedesaan tingkat pertumbuhan penduduk sangat tinggi, sebagai kelebihan supply TK dan tingkat hidup yang subsistence, sehingga produk marjinalnya sama dengan nol dengan upah yang rendah.  Produk marjinal =0 berarti fungsi produksi sector pertanian telah optimal.
Jika jumlah TK > dari titik optimal, maka produktivitas menurun dan upah menurun. Dengan mengurangi jumlah TK yang terlalu banyak dibandingkan tanah dan capital tidak merubah jumlah outputnya. Diperkotaan, sektor industri kekurangan TK, sehingga produktivitas TK menjadi tinggi dan nilai produk marjinalnya positif yang menunjukkan fungsi produksinya belum mencapai titik optimal, sehingga upahnya juga tinggi.
Perbedaan upah ini menyebabkan migrasi/urbanisasi TK dari desa ke kota, sehingga upah TK meningkat dan akhirnya pendapatan Negara meningkat. Pendapatan yang meningkat meningkatkan permintaan makanan (output meningkat) dan dalam jangka panjang pereonomian pedesaan tumbuh dan permintaan produk industri dan jasa meningkat yang menjadi motor utama pertumbuhan output dan diversifikasi produk non pertanian.

-          Teori Hollis Chenery (Teori transformasi struktural/pattern of development)
Teori ini memfokuskan pada perubahan struktur ekonomi di LDCs yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan. Penelitian Chenery menunjukkan peningkatan pendapatan perkapita merubah:
a)      pola konsumsi dari makanan dan kebutuhan pokok ke produk manufaktur dan jasa
b)      Akumulasi capital secara fisik dan SDM
c)      Perkambangan kota dan industry
d)     Penurunan laju pertumbuhan penduduk
e)      Ukuran keluarga yang kecil
f)       Sektor ekonomi didominasi oleh sektor non primer terutama industri
Chenery menyatakan bahwa proses transformasi struktural dapat dipercepat jika pergeseran pola permintaan domestic kearah produk manufaktur dan diperkuat dengan ekspor.
Yi = Di + (Xi-Mi) + ij
            Dimana            Yi        = output bruto industri manufaktur
                                    Di        = permintaan domestik untuk konsumsi
                                    X-M    = perdagangan neto (ekspor-impor)
                                    Yij       = penggunaan produk oleh perusahaan menufaktur sebagai input
Kenaikan produksi sector manufaktur merupakan kontribusi 4 faktor:
a)      Kenaikan permintaan domestic
b)      Peningkatan ekspor
c)      Substitusi impor
d)     Perubahan teknologi
Kelompok LDCs mengalami proses transisi ekonomi yang pesat dengan pola dan proses yang berbeda-beda sebagai akibat dari perbedaan antar negara:
a)      Kondisi dan struktur awal ekonomi DN (memiliki industry dasar atau tidak)
b)      Besar pasar DN (tergantung pada pertumbuhan penduduk)
c)      Pola distribusi pendapatan (merata atau tidak)
d)     Karakteristik industrialisasi (strategi pembangunan industri apakah ada industri yang diunggulkan)
e)      Keberadaan SDA (keberadaan kualitas dan kuantitas SDA)
f)       Kebijakan perdagangan LN (kebijakan tertutup/protektif industri DN atau terbuka/promosi ekspor).

6.     ARTIKEL
2015 GOOD FOR GROWTH, BAD FOR BUSINESS
America's economic growth in last year's fourth quarter was surprisingly strong, yet corporate profits sagged. The U.S. economy expanded 1.4 percent in the final three months of 2015.
By Andrew Soergel March 25, 2016, at 11:33 a.m.
U.S. economic growth in the final three months of 2015 has again been revised upward and is now believed to have clocked in at twice the pace initially reported back in January.
Corporate profits, however, didn't share in that gain.
America's gross domestic product expanded at a rate of 1.4 percent in October, November and December, according to a report released Friday by the Bureau of Labor Statistics. That's up slightly from last month's 1 percent growth estimate and significantly above an initial 0.7 percent projection.
Economists were generally expecting the revision to again come in around 1 percent, so Friday's release was viewed by many as a pleasant surprise. "Overall, the report shows a stronger finish to the year than previously thought," Bob Hughes, a senior research fellow at the American Institute for Economic Research, wrote in a research note Friday. "Upward revisions to consumer spending, housing, net trade and government spending all contributed to the stronger gain."
Indeed, the improvement was helped in large part by positive revisions to consumer purchases, which make up the lion's share of America's economic growth each quarter. Personal consumption expenditures climbed 2.4 percent in the final three months of 2015, compared with a 2 percent estimate published last month.
Exports, likewise, were bumped up slightly and only fell by about 2 percent in the fourth quarter, compared with a previous 2.7 percent projection. Imports were bumped down slightly and are believed to have fallen 0.7 percent to close out 2015.
Exports bolster GDP calculations, while imports ultimately drag on growth. So revisions to both components helped broaden economic expansion in the fourth quarter. On the whole, the U.S. economy is believed to have expanded 2.4 percent in 2015, up from a previous 2.2 percent estimate.
It's worth noting, however, that a 1.4 percent economic growth rate is hardly robust, particularly considering it's the worst pace of expansion the economy has seen since the first quarter of 2015 and the third-worst quarter of the last two years. Though consumer spending was revised up from initial estimates, its final rate of growth still clocked in below what was seen in the second and third quarters of the year. And nonresidential fixed investment among America's employers – which represents how much businesses are spending on their own workforces to update technology or facilities to help stimulate productivity – was revised down further and is believed to have contracted 2.1 percent in the final three months of the year. That's tied for the steepest drop in any quarter since 2009, when the U.S. was just emerging from the Great Recession.
Nonresidential fixed investments are generally viewed as a positive for America's workers. Such capital spending by employers increases in-house productivity, which allows workers to step up their output without clocking in extra hours. That raises profits for business owners, who are then free to reinvest their extra capital back into the company, potentially bringing on new workers or raising the wages of existing employees.
But that dynamic does not appear to be playing out at this point in the business cycle, which is bad news for workers hoping to receive a raise in the near future. "Considering the weak first quarter [of 2016] for profits and capital market volatility, we cannot completely dismiss the possibility that businesses have begun to rein in plans to hire along with [their] capital spending," Steve Blitz, chief economist at ITG Investment Research, wrote in a research note Sunday. "The next several weeks will be critical in determining whether this is noise from high-frequency data or a fundamental event."
Wall Street weathered its worst start to a calendar year on record in 2016, and although the market has since largely recovered, corporate performance in the first few months of the year was underwhelming on the whole. That trend appears to have carried over from the end of 2015, when profits from current production dropped $159.6 billion, compared with a loss of just $33 billion in the third quarter, according to the bureau's Friday release.
Over the course of 2015, profits adjusted for inventory value and capital consumption fell more than 3 percent, which represents the largest annual drop since 2008. "Most of the weakness came from energy industries: Of the overall $160 billion annualized decline in profits, $124 billion came from petroleum and coal products," Gus Faucher, deputy chief economist at The PNC Financial Services Group, wrote in a research note Friday. "But there were declines in most industries, including both domestic profits and those from abroad, and in both domestic financial and domestic nonfinancial industries."
So while consumer spending maintained a healthy rate of growth last year, a treacherous financial market and shaky international demand weighed on companies' profitability. And considering the beginning of 2016 is believed to have only gotten worse for the country's corporate sector, analysts generally expect to see further weakness next month when data depicting the year's first quarter of economic growth are released. Corporate health isn't nearly as important to the overall economy as consumer spending. But a choppy corporate environment doesn't bode well for wage gains and hiring going forward. 

7.     ANALYSIS
Good growth, business was bad going in the u.s. by 2015. The U.S. economy expanded to 1.4% in October, november, and December, previously estimated at 2.2%. the economic growth rate of 1.4% is hardly robust. This is the worst rate of expansion since the first quarter and the third quarter is the worst in the last two years.
Over the course of 2015, profits adjusted for inventory value and capital consumption fell more than 3 percent, which represents the largest annual drop since 2008. Most of the deterioration came from the energy industry to reach 160 billion while the decline of the coal and oil products reached 124 billion. Remember that in the year 2016 are believed to be worse for the country's corporate sector. The analysis is expected to see further weakness in the months ahead.

Referensi :
http://kuswanto.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/19597/3.+Pertumbuhan+dan+Perubahan+Struktur+Ekonomidocx.doc.
http://www.slideshare.net/handy456/perekonomian-indonesipertumbuhan-dan-perubahan-struktur-ekonomi
http://www.upy.ac.id/digilib/journal/trisiwi/19.perbedaan_pertumbuhan_ekonomi.pdf
http://www.usnews.com/news/articles/2016-03-25/2015-good-for-us-gdp-growth-bad-for-business