PRODUK
DOMESTIK BRUTO, PERTUMBUHAN, DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
(23215336)
(23215638)
(26215271)
1.
PDB (PRODUK DOMESTIK BRUTO) ATAU GDP (GROSS DOMESTIC
PRODUCT)
Yaitu
menghitung hasil produksi suatu perekonomian tanpa memperhatikan siapa pemilik
faktor produksi tersebut. Semua faktor produksi yang berlokasi dalam
perekonomian tersebut outputnya diperhitungkan dalam PDB. Akibatnya, PDB kurang
memberikan gambaran tentang berapa sebenarnya output yag dihasilkan oleh
faktor-faktor produksi milik perekonomian domestik.
PDB
adalah jumlah produk yang berupa barang maupun jasa yang dihasilkan oleh
unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu Negara selama 1 tahun.
Dengan rumus :
GDP/PDB = C + I + G + (X - M)
Keterangan :
C
= Konsumsi X
= Ekspor
I
= Investasi M
= Impor
G
= Pengeluaran pemerintah
2.
PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
Definisi Pertumbuhan
Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi
diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu Negara secara
berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.
Pertumbuhan Ekonomi
diartikan sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang
diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.
Pertumbuhan ekonomi merupakan
penambahan GDP, sehingga terjadi peningkatan national income.
Peningkatan
Jumlah Penduduk
|
Peningkatan
National Income
|
Peningkatan
Kebutuhan Sehari-hari
National
income dapat merujuk pada GDP, GNP atau
NNP (Net national Product)
GNP
= GDP + F, dimana F = pendapatan neto atas faktor luar negeri
NNP
= GNP – D, dimana D = depresiasi
NP
= NNP – Ttl, dimana Ttl = pajak tidak langsung neto.
GDP
= NP + Ttl + D – F
NP
= GDP + F – D- Ttl
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Subandi,
dalam bukunya Sistem Ekonomi Indonesia menulis bahwa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum, yaitu :
1. Faktor
produksi
2. Faktor
investasi
3. Faktor
perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran
4. Faktor
kebijakan moneter dan inflasi
5. Faktor
keuangan Negara
3.
PERTUMBUHAN EKONOMI SELAMA ORDE BARU HINGGA SEKARANG
Selama
pemerintahan orde baru (sebelum krisis ekonomi 1997) dikatakan bahwa Indonesia
telah mengalami suatu proses pembangunan ekonomi yang menakjubkan, paling tidak
pada tingkat makro (agregat). Keberhasilan ini diukur dengan sejumlah indicator
ekonomi makro. Yang umum dgunakan adalah tingkat PN perkapita dan laju
pertumbuhan PDB pertahun. Pada tahun 1968 PN per kapita masih sangat rendah,
hanya sekitar US$60.
Namun,
sejak pelita 1 dimulai PN Indonesia perkapita mengalami peningkatan relatif
tinggi setiap tahun dan pada akhir decade 1980-an telah mendekati US$500. Hal
ini disebabkan oleh pertumbuhan PDB rata-rata pertahun juga tinggi 7-8% selama
tahun 1970-an dan turun menjadi 3-4% pertahun. Selama 70-80an, proses yang
cukup serius, yang terutama disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti
merosotnya harga minyak mentah di pasar internasional menjelang pertengahan
1980-an dan resensi ekonomi dunia pada decade yang sama. Karena Indonesia sejak
pemerintahan orde baru menganut sistem ekonomi terbuka, 18 goncangan-goncangan
eksternal seperti itu sangat terasa dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain
faktor harga, ekspor Indonesia, baik komoditas primer maupun barang-barang industri
maju, seperti jepang, AS, dan eropa barat yang merupakan pasar pnting ekspor
Indonesia. Dampak negative dari resensi ekonomi dunia tahun 1982 terhadap
perekonomian Indonesia terutama terasa dalam laju pertumbuhan ekonomi selama
1982-1988 jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Karena pengalaman
menunjukan bahwa biasanya resensi ekonomi dunia lebih mengakibatkan permintaan
dunia berkurang terhadap bahan-bahan baku (yang sebagian besar di ekspor oleh
NSB) daripada permintaan terhadap barang-barang konsumsi, seperti alat-alat
rumah tangga dari elektronik dan mobil.
Pada
saat krisis ekonomi mencapai klimaksnya, yakni tahun 1998, laju pertumbuhan PDB
jatuh drastic hingga 13,1%. Namun, pada tahun berikutnya kembali positif
walaupun kecil sekitar 0.8% dan tahun 2000 ekonomi Indonesia mengalami laju
pertumbuhan yang tinggi hampir 5%. Namun tahun 2001 laju pertumbuhan ekonomi
kembali merosot hingga 3.8% akibat gejolak politik yang sempat memanas kembali
pada tahun 2007 laju pertumbuhan tercatat sedikit diatas 6%.
Antara
tahun 1990 hingga sebelum menjelang krisis ekonomi, Indonesia tumbuh rata-rata
pertahun diatas 8%. Kemajuan yang dicapai oleh cina dan india memang sangat
menakjubkan. Pada awal dekade 90-an, pertumbuhan ekonomi dikedua Negara besar
tersebut masing-masing tercatat hanya 3.8-5.3%. namun pada pertengahan dekade 90-an,
pertumbuhan kedua Negara itu sudah menyamai bahka melewati persentasi
Indonesia. Dari sejumlah Negara ASEAN yang juga dihantam krisis 1997/98,
Indonesia memang paling parah dengan pertumbuhan negatif hingga 13.1%, disusul
oleh Thailand dengan -10.5% dan Malaysia -7.4%. namun yang menakjubkan dari
kedua Negara tersebut setahun setelah itu ekonomi mereka mulai pulih
dibandingkan ekonomi Indonesia yang hanya 0.8%.
Laju
pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin membaik setelah 1998 tercerminkan
pada peningkatan PDB perkapita atas dasar harga berlaku tercatat sekitar 4.8
juta rupiah. Tahun 1999 naik menjadi 5.4 juta rupiah dan berlangsung sehingga
mencapai sekitar 10,6 juta rupiah pada tahun 2004, perkapita Indonesia pada
tahun 2006 mencapai 1420 dalar AS, diatas india, tetapi masih jauh lebih rendah
dibandingkan china.
Tahun
1998, sebagai akibat dari krisis ekonomi semua komponen pengeluaran mengalami
penurunan terkecuali X yang mengakibatkan kontraksi AD SEKITAR 13%. Sedangkan
perkembangan X bisa bertahan positif selama masa krisis terutama seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya. Komponen AD yag paling besar penurunannya selama
1998 adalah pembentukan modal bruto yang merosost sekitar 33.01% dibandingkan
kontraksi dari pengeluaran konsumsi swasta sebesar 6.40% dan pengeluaran
pemerintah sebesar 15.37%. besarnya penurunan investasi tersebut juga kelihatan
jelas dari penurunan presentasinya terhadap PDB ada tahun 2000 pertumbuhan
investasi sempat mencapai hamper 18%, namun setelah itu merosot terus hingga negatif
pada tahun 2002.
Pada
awalnya, salah satu faktor penting yang menyebabkan merosotnya kegiatan
investasi dalam negeri selama masa krisis seperti juga di Negara-negara asia
lain yang terkena krisis adalah karena kerugian besar yang dialami oleh perusahaan
swasta akibat depresiasi rupiah yang besar, sementara utang luar negeri dlam
mata uang dolah AS tidak dilindungi sebelumnya dengan kurs tertentu di pasar
jangka waktu kedepan. Faktor-faktor lain yang membuat lesuya komponen investasi
didalam AS diantaranya adalah jatuhnya harga saham, pelarian modal atau arus
modal keluar lebih banyak daripada arus masuk dan risiko premium yang meningkat
drastis. Dua faktor terakhir ini didorong oleh kondisi politik, sosial,
keamanan, dan penegakan hukum yang buruk.
4.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI
INDONESIA
-
Faktor
Internal
Faktor internal yang
mencakup factor ekonomi dan non ekonomi (politik, social dan keamanan). Lambatnya
proses pemulihan ekonomi nasional lebih disebabkan kondisi politik, sosial, dan
keamanan di dalam negeri. Pemulihan ekonomi Indonesia berjalan lambat karena
proses perbaikan ekonomi nasional tidak disertai kestabilan politik dan
keamanan yang memadai, penyelesaian konflik sosial, serta kepastian hukum
(Tambunan,2001:43-44). Faktor ekonomi mencakup: pengendalian terhadap inflasi,
cadangan devisa, rasio hutang Ln terhadap PDB, dan kondisi perbankan, serta
kesiapan dunia usaha.
-
Faktor
Eksternal
Faktor eksternal adalah
faktor-faktor ekonomi yang mencakup perdagangan internasional dan pertumbuhan
ekonomi dunia. Kondisi perdagangan dan perekonomian regional atau perekonomian
dunia merupakan faktor eksternal yang sangat penting untuk mendukung pemulihan
ekonomi Indonesia. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan
ekspor dan investasi asing dalam negeri
5.
PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
Pembangunan
ekonomi jangka panjang (PDB/PN) merubah struktur ekonomi dari pertanian menuju
industry (sector non primer) terutama industri manufaktur dengan increasing return to scale. Semakin
cepat pertumbuhan ekonomi, semakin meningkat pendapatan perkapita, semakin
cepat perubahan struktur ekonomi.
Perubahan
struktur ekonomi/transformasi structural merupakan serangkaian perubahan yang
saling terkait satu dengan lainnya dalam aggregate
demand, perdagangan LN, dan aggregate
supply untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
Teori perubahan struktur ekonomi:
-
Teori
Arthur Lewis (Teori migrasi)
Teori ini membahas
pembangunan di pedesaan (perekonomian tradisional dengan pertanian sebagai sektor
utama) dan perkotaaan (perekonomian modern dengan industri sebagai seckor
utama).
Di pedesaan tingkat
pertumbuhan penduduk sangat tinggi, sebagai kelebihan supply TK dan tingkat hidup yang subsistence, sehingga produk marjinalnya sama dengan nol dengan
upah yang rendah. Produk marjinal =0
berarti fungsi produksi sector pertanian telah optimal.
Jika jumlah TK >
dari titik optimal, maka produktivitas menurun dan upah menurun. Dengan
mengurangi jumlah TK yang terlalu banyak dibandingkan tanah dan capital tidak
merubah jumlah outputnya. Diperkotaan, sektor industri kekurangan TK, sehingga
produktivitas TK menjadi tinggi dan nilai produk marjinalnya positif yang
menunjukkan fungsi produksinya belum mencapai titik optimal, sehingga upahnya
juga tinggi.
Perbedaan upah ini
menyebabkan migrasi/urbanisasi TK dari desa ke kota, sehingga upah TK meningkat
dan akhirnya pendapatan Negara meningkat. Pendapatan yang meningkat
meningkatkan permintaan makanan (output meningkat) dan dalam jangka panjang
pereonomian pedesaan tumbuh dan permintaan produk industri dan jasa meningkat
yang menjadi motor utama pertumbuhan output dan diversifikasi produk non
pertanian.
-
Teori
Hollis Chenery (Teori transformasi struktural/pattern of development)
Teori ini memfokuskan
pada perubahan struktur ekonomi di LDCs yang mengalami transformasi dari
pertanian tradisional ke sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan.
Penelitian Chenery menunjukkan peningkatan pendapatan perkapita merubah:
a) pola
konsumsi dari makanan dan kebutuhan pokok ke produk manufaktur dan jasa
b) Akumulasi
capital secara fisik dan SDM
c) Perkambangan
kota dan industry
d) Penurunan
laju pertumbuhan penduduk
e) Ukuran
keluarga yang kecil
f) Sektor
ekonomi didominasi oleh sektor non primer terutama industri
Chenery
menyatakan bahwa proses transformasi struktural dapat dipercepat jika
pergeseran pola permintaan domestic kearah produk manufaktur dan diperkuat
dengan ekspor.
Yi
= Di + (Xi-Mi) +
ij
Dimana Yi = output bruto industri manufaktur
Di = permintaan domestik untuk konsumsi
X-M = perdagangan neto (ekspor-impor)
Yij = penggunaan produk oleh perusahaan menufaktur sebagai input
Kenaikan
produksi sector manufaktur merupakan kontribusi 4 faktor:
a) Kenaikan
permintaan domestic
b) Peningkatan
ekspor
c) Substitusi
impor
d) Perubahan
teknologi
Kelompok
LDCs mengalami proses transisi ekonomi yang pesat dengan pola dan proses yang
berbeda-beda sebagai akibat dari perbedaan antar negara:
a) Kondisi
dan struktur awal ekonomi DN (memiliki industry dasar atau tidak)
b) Besar
pasar DN (tergantung pada pertumbuhan penduduk)
c) Pola
distribusi pendapatan (merata atau tidak)
d) Karakteristik
industrialisasi (strategi pembangunan industri apakah ada industri yang
diunggulkan)
e) Keberadaan
SDA (keberadaan kualitas dan kuantitas SDA)
f) Kebijakan
perdagangan LN (kebijakan tertutup/protektif industri DN atau terbuka/promosi
ekspor).
6. ARTIKEL
2015 GOOD FOR
GROWTH, BAD FOR BUSINESS
America's economic growth in last
year's fourth quarter was surprisingly strong, yet corporate profits sagged.
The U.S. economy expanded 1.4 percent in the final three months of 2015.
By Andrew Soergel
March 25, 2016, at 11:33 a.m.
U.S.
economic growth in the final three months of 2015 has again been revised upward
and is now believed to have clocked in at twice the pace initially reported
back in January.
Corporate
profits, however, didn't share in that gain.
America's
gross domestic product expanded at a rate of 1.4 percent in October, November
and December, according to a report released Friday by the Bureau of Labor
Statistics. That's up slightly from last month's 1 percent growth
estimate and significantly above an initial 0.7 percent projection.
Economists
were generally expecting the revision to again come in around 1 percent, so
Friday's release was viewed by many as a pleasant surprise. "Overall, the
report shows a stronger finish to the year than previously thought," Bob
Hughes, a senior research fellow at the American Institute for Economic
Research, wrote in a research note Friday. "Upward revisions to consumer
spending, housing, net trade and government spending all contributed to the
stronger gain."
Indeed,
the improvement was helped in large part by positive revisions to consumer
purchases, which make up the lion's share of America's economic growth each
quarter. Personal consumption expenditures climbed 2.4 percent in the final
three months of 2015, compared with a 2 percent estimate published last
month.
Exports,
likewise, were bumped up slightly and only fell by about 2 percent in the
fourth quarter, compared with a previous 2.7 percent projection. Imports
were bumped down slightly and are believed to have fallen 0.7 percent to close
out 2015.
Exports
bolster GDP calculations, while imports ultimately drag on growth. So revisions
to both components helped broaden economic expansion in the fourth quarter. On
the whole, the U.S. economy is believed to have expanded 2.4 percent in 2015,
up from a previous 2.2 percent estimate.
It's
worth noting, however, that a 1.4 percent economic growth rate is hardly
robust, particularly considering it's the worst pace of expansion the economy
has seen since the first quarter of 2015 and the third-worst quarter of
the last two years. Though consumer spending was revised up from initial
estimates, its final rate of growth still clocked in below what was seen in the
second and third quarters of the year. And nonresidential fixed investment
among America's employers – which represents how much businesses are spending
on their own workforces to update technology or facilities to help stimulate
productivity – was revised down further and is believed to have contracted 2.1
percent in the final three months of the year. That's tied for the steepest
drop in any quarter since 2009, when the U.S. was just emerging from the Great
Recession.
Nonresidential
fixed investments are generally viewed as a positive for America's workers.
Such capital spending by employers increases in-house productivity, which
allows workers to step up their output without clocking in extra hours. That
raises profits for business owners, who are then free to reinvest their extra
capital back into the company, potentially bringing on new workers or
raising the wages of existing employees.
But
that dynamic does not appear to be playing out at this point in the business
cycle, which is bad news for workers hoping to receive a raise in the near
future. "Considering the weak first quarter [of 2016] for profits and
capital market volatility, we cannot completely dismiss the possibility that
businesses have begun to rein in plans to hire along with [their] capital
spending," Steve Blitz, chief economist at ITG Investment Research, wrote
in a research note Sunday. "The next several weeks will be critical in
determining whether this is noise from high-frequency data or a fundamental
event."
Wall
Street weathered its worst start to a calendar year on record in 2016, and
although the market has since largely recovered, corporate performance in the
first few months of the year was underwhelming on the whole. That trend appears
to have carried over from the end of 2015, when profits from current production
dropped $159.6 billion, compared with a loss of just $33 billion in
the third quarter, according to the bureau's Friday release.
Over
the course of 2015, profits adjusted for inventory value and capital
consumption fell more than 3 percent, which represents the largest annual drop
since 2008. "Most of the weakness came from energy industries: Of the
overall $160 billion annualized decline in profits, $124 billion came from
petroleum and coal products," Gus Faucher, deputy chief economist at The
PNC Financial Services Group, wrote in a research note Friday. "But there
were declines in most industries, including both domestic profits and those
from abroad, and in both domestic financial and domestic nonfinancial
industries."
So
while consumer spending maintained a healthy rate of growth last year, a
treacherous financial market and shaky international demand weighed on
companies' profitability. And considering the beginning of 2016 is believed to have
only gotten worse for the country's corporate sector, analysts generally expect
to see further weakness next month when data depicting the
year's first quarter of economic growth are released. Corporate health
isn't nearly as important to the overall economy as consumer spending. But a
choppy corporate environment doesn't bode well for wage gains and hiring going
forward.
7.
ANALYSIS
Good
growth, business was bad going in the u.s. by 2015. The U.S. economy expanded
to 1.4% in October, november, and December, previously estimated at 2.2%. the
economic growth rate of 1.4% is hardly robust. This is the worst rate of
expansion since the first quarter and the third quarter is the worst in the
last two years.
Over
the course of 2015, profits adjusted for inventory value and capital
consumption fell more than 3 percent, which represents the largest annual drop
since 2008. Most of the deterioration came from the energy industry to reach
160 billion while the decline of the coal and oil products reached 124 billion.
Remember that in the year 2016 are believed to be worse for the country's
corporate sector. The analysis is expected to see further weakness in the
months ahead.
Referensi
:
http://kuswanto.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/19597/3.+Pertumbuhan+dan+Perubahan+Struktur+Ekonomidocx.doc.
http://www.slideshare.net/handy456/perekonomian-indonesipertumbuhan-dan-perubahan-struktur-ekonomi
http://www.upy.ac.id/digilib/journal/trisiwi/19.perbedaan_pertumbuhan_ekonomi.pdf
http://www.usnews.com/news/articles/2016-03-25/2015-good-for-us-gdp-growth-bad-for-business